Masyayikh Penasehat & Pengasuh

K.H. Ahmad Basyir Kudus
Penasehat

Simbah Mulyadi Bin Kardi Ronodikromo
Pembina

Abah K.H. Muhammad Ghufron Mulyadi
Pegasuh
Sejarah

Pondok pesantren Darul Falah Ki Ageng Mbodo didirikan pada tanggal 21 Agustus 2005, yang jatuh pada hari minggu kliwon.
Pendirian pondok pesantren ini berasal dari keprihatinan tokoh terkemuka di Dusun Sendangsari Mbodo, yang dikenal sebagai “Mbah Hari”. Mbah Hari, seorang tokoh pemerintahan dan agama, merasa prihatin akan kurangnya fasilitas keagamaan bagi masyarakat. Ia memiliki sebidang tanah yang disumbangkan untuk pembangunan masjid, namun tanah tersebut belum diurus oleh seorang ustadz atau guru. Untuk mengatasi hal ini, Mbah Hari mengusulkan keponakannya, Muhammad Ghufron, yang merupakan lulusan pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, untuk mengajar ngaji.
Muhammad Ghufron, setelah menikah, diminta oleh Mbah Hari untuk mengajar ngaji secara teratur. Dengan berjalannya waktu, jumlah santri yang beliau ajari bertambah, dan akhirnya beliau membentuk sebuah program mengaji yang menyerupai program pondok pesantren. Program ini diberi nama NKRI (Nyandong KaRidhaning Ilahi), yang kemudian berganti nama menjadi MAJELIS JIMAD SHOLAWAT Ahad Kliwon.
Dengan terus bertambahnya santri yang tinggal di rumah beliau,kemudian beliau melakukan tabarukan di pondok beliau yaitu Darul Falah Jekulo Kudus,dengan hasil tabarukan akhirnya beliaupun memutuskan mendirikan pondok pesantren yang beliau beri nama Darul Falah Ki Ageng Mbodo atau yang kerap disebut Pondok Mbodo.Waktu berjalan,hari berganti,santri yang tinggal di rumah beliau terus bertambah,dengan dukungan guru,orang tua,istri,keluarga dan kerabat beliau membangun sebuah bangunan yang berukuran tidak besar yang diberi tulisan “PONDOK PESANTREN DARUL FALAH KI AGENG MBODO” yang bertempat di Jln.Tombo Ati Dsn.Sendangsari Ds.Tambirejo, RT 05 RW 07 Kec.Toroh Kab.Grobogan Jawa Tengah.
Majelis ahad kliwon yang beliau dirikan semakin lama terus berkembang hingga memiliki beribu-ribu jama'ah yang mengikuti majelis ahad kliwon itu.Karena santri yang masuk pondok pesantren semakin bertambah,Pondok mbodo ini terus berkembang sehingga beliau memutuskan untuk menjadi kiai pesantren yang berdiam di pesantren untuk mendidik para santri-santrinya.